Sunday, 11 June 2017

Sadar atau tidak, Leluhur orang Bali mewariskan hal-hal ini bagi generasinya melalui Pura Lempuyang Luhur

Pura Lempuyang Luhur,
Foto: tripadvisor.com

Pura Lempuyang luhur

Maksud leluhur dengan dibangunnya Pura Lempuyang-Kecanggihan teknologi dan jaman sudah semakin modern membuat semua orang ingin serba cepat dan serba praktis. Padahal tanpa disadari dengan serba praktis tersebutlah dapat mengurangi gerak dan aktifitas kita. Pengaruh pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali membuat banyaknya lahan di alih fungsikan menjadi bangunan sehingga mengurangi jumlah pepohonan yang berguna sebagai penyuplai oksigen bagi makhluk hidup lainnya. 

Semakin canggihnya teknologi, semakin pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, semakin pesat juga perkembangan penyakit. Mungkin dulu belum terungkap jenis penyakit-penyakit tertentu karena kurangnya teknologi penunjang atau memang penyakit berkembang seiring berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan?

Masih ingat dengan pepatah " Alam akan memberimu apa yang kamu berikan padanya" jadi seperti teori sebab akibat. Saat kita meberi kimia pada alam, maka alam juga akan memberikan kimia ke tubuh kita karena kita mengonsumsinya. Saat kita menebang pohon guna mengubahnya menjadi tempat tinggal secara massal dan alampun memberikan panas yang berlebih kepada kita.

Bali memang identik dengan pariwisatanya. Sektor pariwisata memberikan pemasukan bagi negara dan menambah lapangan pekerjaan bagi masyarakat Bali, namun pariwisata justru memberikan dampak negatif bagi Bali karena banyaknya alih fungsi lahan menjadi hotel dan villa serta bangunan penunjang pariwisata tersebut. Sawah-sawah sudah semakin sedikit, bisa kita bayangkan nanti Bali akan mengimport beras, kebutuhan pokok dan kebutuhan upakara serta upacara. 

Namun beruntung warga Bali dan Umat Hindu Khususnya masih menjaga warisan leluhurnya berupa pura, agama dan seni budaya. Memang kadang warisan tersebut masih identik dengan hal dulu dan bersifat kuno, tetapi jangan salah, ada makna penting dibalik itu semua. 

Pernahkah kalian berwisata atau tirtayatra ke Pura Lempuyang Luhur? kalau pernah, apa yang ada di benak kalian? mungkin ada yang bilang jauh, tinggi, capek. ada juga yang bilang senang, indah, berkesan. macam-macam pemikiran masing-masing pribadi. Tetapi akan lebih banyak yang bilang bahea tempat ini sangat berkesan dan mempesona.





Pura Lempuyang Luhur terletak di puncak Bukit Bibis atau Gunung Lempuyang, Kabupaten Karangasem. Lokasinya di ketinggian kurang lebih sekitar 1.100 meter. Lokasi ini berjarak sekitar 97,7 km dari Kuta dan memakan waktu tempuh sekitar 2 jam 51 Menit.

Masyarakat Bali masih menjaga pura ini karena memang wajib dijaga kelestariannya dan kesuciannya. Mari kita lihat arsitektur Pura Penataran, yaitu Pura Paling awal kita temui sebelum menuju ke Puncak.


Pura Penataran Lempuyang,
Foto: balebanjar.com


Pura yang berada di ketinggian kurang lebih dengan 100 anak tangga ini sengaja dibuat oleh leluhur kita dengan tujuan agar umat yang datang untuk bersembahyang mau bergerak menuju pura dengan melangkahkan kakinya setapak demi setapak, Dalam ilmu kesehatan sangat dianjurkan untuk berjalan kaki untuk memperkuat jantung dan tulang kita. Sungguh cerdasnya leluhur kita menyiapkan itu semua untuk kesehatan keturunannya. dengan raga yang sehat, dapat menunjang rohani yang sehat pula. 

Mari kita lihat lagi Candi Bentar pada pura ini, mengapa di buat sempit? mengapa Candi Bentarnya tidak dibuat lebar selebar-lebarnya? Hal ini dimaksudkan agar kita yang hendak bersembahyang membiasakan budaya antri tatkala memasuki pura karena dalam budaya antri, tercermin hati yang sabar.


Tangga Pura Lempuyang,
Foto: balitoursclub.com

Yuk Lanjut lagi menuju puncak Pura Lempuyang. Untuk menuju Pura Puncak, kita disuguhkan dengan ribuan anak tangga, karena kita harus berjalan kaki mendaki bukit nan tinggi melalui anak tangga tersebut. Sebelum sampai di Pura Puncak, kita akan menemui Pura Pasar Agung. Masih jauh lagi perjalanan kita. 

Dalam perjalanan menuju Pura Puncak Luhur, adakah kita berfikir sejenak, mengapa leluhur kita membangun pura-pura di atas bukit?Hal itu tidak lain agar penerusnya bisa merasakan untuk menuju Sang Maha Pencipta itu sangat tidak mudah, perlu jalan menanjak nan berliku. Dari segi Lingkungan, leluhur kita menuntut menjaga keasrian dan keindahan alam disekitar kita kalau kita ingin lama merasakan sejuk dan segarnya suasana bukit sehingga suplay oksigen juga banyak untuk kita.

Pernah diantara kalian mendengar " Jangan pernah bilang capek kalau mendaki menuju Pura Lempuyang" , apakah itu memang ketentuan yang berlaku sebagai kutukan apabila melanggarnya atau tidak, tetapi kalau dilihat secara psikologis, kalau mental kita lemah dengan otomatis fisik kita juga melemah. karena saat kita katakan menyerah maka langkahpun akan ikut terhenti. Saat kita katakan kita masih kuat dan masih bisa walaupun raga sudah lelah, maka tubuh ini akan mengikuti untuk pantang menyerah hingga tujuan berhasil dicapai.

Dari situ leluhur mengajarkan kita agar selalu menunjukkan mental yang kuat, kita hanya sekali saja kok mendaki bukit dan kita harus tetap berusaha bersemangat. Namun Perjalanan hidup masih panjang, jangan katakan lelah dan menyerah, karena kalau kita menyerah, kita akan kalah.

Orang barat boleh bangga akan penemuannya dan usahanya mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi kita orang Bali juga patut bangga dengan maksud yang terselip dari leluhur kita untuk generasinya bahwa menjaga alam jauh lebih baik daripada memanfaatkan ilmu pengetahuan demi ekplorasi dan keuntungan pribadi.


Setelah tiba di puncak Pura Lempuyang, kamu akan merasa usaha pendakianmu terbayarkan, mengapa tidak? karena di sana kamu akan dapat melihat indahnya dunia dari atas ketinggian. Sungguh mengesankan. Perasaan yang bahagia dan damai dapat meningkatkan kesehatan psikologis dan jasmani kamu, jadi tentu leluhur orang Bali sudah menyiapkan rancangan tersebut untuk penerusnya melalui Pura Lempuyang ini.



Teknologi, obat-obatan, pembangunan memang memberi dampak positif, namun karena keserakahan manusia, semua itu berimbas pada lingkungan dan kesehatan manusia itu sendiri. Dulu teknologi dan ilmu pengetahuan belum sepesat sekarang, tetapi umur manusia masih panjang namun sekarang adalah kebalikannya, kemajuan teknologi berbanding terbalik dengan umur manusia. 


Canang Sari,
Foto: baliguides.info


Untuk bersembahyang ke pura, minimal kita harus membawa bunga. Seperti gambar di atas, kenapa bunga ditaruh di atas janur yang sudah di anyam sedemikian rupa yang dinamakan sebagai Canang Sari, padahal bunga bisa saja ditaruh di tempat apa saja. Karena leluhur ingin mengajarkan bahwa dalam menjalankan kegiatan keagamaan, jangan lupakan juga seni itu sendiri. Karena kita menjaga seni Budaya itulah sekarang menjadi daya tarik wisatawan asing.

Semua sudah dirancang sedemikian rupa oleh leluhur kita dulu. Mereka tak kalah cerdas walaupun tidak mengenal jaman digital seperti sekarang, namun pemikiran mereka adalah untuk investasi jangka panjang bagi generasi penerusnya.

Kalau pembaca ingin melihat keindahan warisan leluhur yang lain, bisa juga kunjungi Pura Ulun Danu Beratan dan Pura Tanah Lot sembari mencari apa makna dibalik adanya pura tersebut demi kita semua khususnya Umat Hindu di Bali.

Mari tetap menjaga warisan leluhur, karena leluhur kita telah mencurahkan pikiran, materi serta tenaga untuk menyiapkan itu semua demi generasi penerusnya, cukup menjaga bahkan kalau bisa di kembangkan namun tidak mengubahnya menjadi lebih jelek lagi.


EmoticonEmoticon