Saturday, 6 May 2017

Eks Pelabuhan Buleleng, mengenang kejayaan Buleleng masa lalu


Saat senja tiba
Eks Pelabuhan Buleleng-Masih banyak tempat wisata yang ada di Kabupaten Buleleng, namun masih belum terekspose dan terkelola dengan semaksimal mungkin. Tapi kita patut bangga dengan apa yang kita miliki, terlebih lagi saya memang berasal dari Buleleng.

Kota tua yang berada di Bali Utara adalah kota yang sempat menjadi Ibu Kota Provinsi Bali dan pusatnya pelayaran karena memiliki dermaga terbesar di Bali yang bernama Pelabuhan Buleleng.

Pelabuhan Buleleng terletak sekitar 2,5 km dari Kota Singaraja dan sekitar 160 km dari Kuta. Sebelum sampai di Pelabuhan Buleleng kalau kamu berangkat dari Kuta, maka kamu akan menjumpai Taman Ayun, Kebun Raya Eka Karya, Pura Ulun Danu Beratan dan Danau Tamblingan dan Danau Buyan

Entah karena alasan apa Ibu Kota Provinsi Bali dipindahkan ke Kota Denpasar, hal itu membuat kejayaan Pelabuhan Buleleng perlahan menghilang. Pelabuhan ini dulunya menjadi tempat persinggahan kapal pesiar, tempat bongkar muat barang, gerbang awal memasuki Bali, namun kini tinggal sejarah. Bangunan tua yang menjadi yang tetap dibiarkan kosong hanya akan menjadi kenangan. 

Pelabuhan Buleleng menjadi saksi sejarah pertempuran masyarakat Buleleng dengan tentara Belanda.  Untuk mengenang keberanian masyarakat Buleleng maka pada tahun 1987 pemerintah membangun Tugu Yudha Mandala Tama. Sebuah tugu dengan patung seorang pemuda menunjuk ke arah utara sambil memegang bambu runcing yang ujungnya diikatkan bendera merah putih.




Sekitar tahun 2005 pemerintah mulai memperhatikan pelabuhan ini, bangunan tua mulai di cat dan ditambahkan taman serta tempat makan terapung sebagai pengganti dermaga tersebut. wisatawan biasanya berkunjung ke tempat ini saat sore hari sambil menyaksikan indahnya matahari terbenan. Ada yang hanya duduk santai, ada yang berfoto-foto sekedar untuk mengabadikan moment mereka, ada juga yang sambil menyantap makanan di restoran ditemani indahnya sunset.

Karena dahulu pelabuhan ini masih aktif, lewat pelabuhan ini masuknya saudara kita dari Tionghoa untuk menetap di Buleleng. Dengan masuknya orang Tionghoa ke Singaraja, maka terjadi akulturasi budaya yang dapat kita lihat dari ornamen pura yang memiliki sedikit ornamen Tionghoa dan makanan khas Singaraja yang merupakan makanan hasil akulturasi dua budaya tersebut adalah siobak.


Klenteng Ling Gwan Kiong

Di dekat pintu masuk sebelah timur, teradapat sebuah klenteng dengan aristektur bergaya oriental yang dikenal dengan nama Ling Gwan Kiong. Sampai sekarang, klenteng ini masih sering digunakan untuk berdoa dan tempat diadakannya upacara pernikahan bagi umat Budha. Kamu akan diperbolehkan memasuki kelenteng ini meskipun klenteng ini merupakan tempat ibadah bagi umat Tri Dharma dan penjaga klenteng akan memandu kamu dengan senang hati.


Dengan warna merah terlihat mencolok di area seputaran eks Pelabuhan Buleleng, Klenteng Ling Gwan Kiong berlokasi  memang berhadapan dengan eks pelabuhan Buleleng. Klenteng Ling Gwan Kiong, adalah tempat ibadat umat Tri Dharma merupakan salah satu kelenteng tua yang ada di kabupaten buleleng menurut info didirikan sekitar tahun1873 masehi. Disekitar eks pelabuhan Buleleng ini terdapat juga beberapa bangunan ibadah seperti klenteng, pura dan masjid, Hal unik ini merupakan cerminan kerukunan antar umat beragama.

Apabila kamu tertarik mengunjungi Eks Pelabuhan Buleleng ini, dapat kamu lihat lokasinya pada peta di bawah ini:







EmoticonEmoticon